|
|
Kini 700 jenis capung di Indonesia, dan 136 jenis di antaranya bisa
ditemukan di pulau Jawa
terancam punah |
World
Dragonflies Association (WDA) atau komunitas pecinta capung internasional yang
berpusat di Inggris mencatat, capung di Indonesia terancam punah.
Ketua Indonesia Dragonfly Society (IDS) Wahyu Sigit mengemukakan, catatan
dari WDA berdasarkan temuan PBB yang menyebutkan kondisi perairan di Indonesia
sangat memprihatinkan. Menurutnya, kehidupan capung sangat tergantung pada
kondisi air.
"Di
beberapa daerah yang terdapat air, sudah banyak tidak ditemukan capung. Di
Malang, capung tidak ditemukan di Talun atau sepanjang Sungai Brantas,” kata
Sigit.
Sebenarnya,
capung sudah akrab dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Terbukti capung
memiliki nama berbeda di setiap daerah. Orang Sunda menyebutnya papatong, di
Jawa dikenal kinjeng, coblang, gantrung, atau kutrik. Orang Banjar mengenal
kasasiur, dan di Flores disebut tojo.
Meski
banyak istilah untuk menyebut hewan ini, ternyata tidak banyak buku tentang
capung untuk lebih mengakrabkan hewan pemakan jentik nyamuk dan hama di sawah.
Berdasar
catatan IDS, hinggga kini hanya dua buku karya orang Indonesia yang membahas
tentang capung, yitu ‘Mengenal Capung’ karya Shanti Susanti terbitan
Puslitbang Biologi-LIPI tahun 1998, dan kumpulan esai berjudul ‘Capung Teman
Kita’ yang diterbitkan Pelestarian Pusaka Indonesia pada 2011 lalu.
“Ahli
serangga di Indonesia sudah sangat banyak, tapi tidak ada yang mengambil
spesifikasi pada capung. Bahkan anak-anak sekolah saja, banyak yang tidak tahu
capung,” tambahnya.





